balikamilagi

Keterlibatan Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Kepariwisataan

Posted by: balikamilagi on: September 28, 2011

Denpasar-

Pada peringatan  Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day) di Aswan, Mesir, 27 September kemarin , para ahli di bidang pariwisata dan budaya telah menggarisbawahi pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata.

“Pentingnya perayaan hari ini tidak dapat diabaikan,” kata Menteri Pariwisata Mesir, Abdel Nour Mounir Fakhry, saat membuka acara tersebut. “Pariwisata telah menjadi salah satu komponen penting dalam perkembangan perekonomian, sosial dan budaya sebuah negara, ……WTD2011“.

Serangkaian peringatan WTD 2011 juga dilaksanakan pertemuan komite tingkat tinggi dengan hasil Rekomendasi Aswan yaituaswanrecommendations

Kaitkata: ,

Pariwisata, ikatan budaya

Posted by: balikamilagi on: September 28, 2011

Denpasar -

27 September adalah hari Pariwisata Dunia, peringatan  tahun 2011 dilaksanakan di kota Aswan, Mesir.

Sekjen UNWTO, Taleb Rifai menyebutkan:

World Tourism Day (WTD) 2011 di bawah tema Pariwisata – Ikatan Budaya, merupakan peringatan  peran pariwisata dalam meruntuhkan hambatan lintas budaya, memupuk toleransi, saling pengertian dan menghormati. Nilai-nilai tersebut merupakan batu loncatan menuju masa depan yang lebih damai.
Kepariwisataan saat ini,  tak hanya  merupakan pertukaran interaksi dan dialog, tetapi sektor ekonomi berbasis pada manusia. Karenya, pertumbuhan pariwisata membawa tanggung jawab serius untuk meminimalkan dampak yang berpotensi negatif terhadap aset budaya dan warisan umat manusia.

Peringatan WTD 2011 adalah panggilan untuk semua orang yang terlibat dalam pariwisata untuk bertindak dengan cara sadar dan menghormati budaya, mempromosikan dialog antar budaya serta memastikan bahwa masyarakat lokal berpartisipasi penuh dan mendapat manfaat seluas- luasnya dalam pengembangan pariwisata. (selengkapnya)Sekjen UNWTO

Sementara pihak PBB menegaskan:

Peringatan Hari Pariwisata Dunia 2011 adalah kesempatan untuk merefleksikan pentingnya peran kepariwisataan dalam mencapai kesejahteraan global. Dunia sudah selayaknya mengakui kekuatan pariwisata dalam menciptakan persatuan dunia, keterbukaan toleransi. Sudah selayaknya juga pemangku kepentingan dalam kepariwisataan menerapkan sepuluh prinsip dasar Kode Etik Pariwisata Global yang telah disetujui Majelis Umum PBB pada tahun 2001 untuk mencapai pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggungjawab.  (selengkapnya)PBB

 

1 Syawal 1432 H

Posted by: balikamilagi on: Agustus 30, 2011

Selamat Lebaran

Maaf lahir dan batin

Memang tak Berpantai

Posted by: balikamilagi on: Agustus 10, 2011

This slideshow requires JavaScript.

Denpasar -

Jika kabupaten lain di Bali mengandalkan pantai sebagai bagian bisnis pariwisata, berbeda halnya dengan Kabupaten Bangli.  Kabupaten yang tak berpantai ini, diberkahi kawasan Kintamani dengan kaldera gunung api Batur lengkap dengan danau Baturnya.

Secara faktual, jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangli, IBN Armaya,  Kintamani dengan 15 desanya — Sukawana, Kintamani, Batur Utara, Batur Tengah, Batur Selatan, Kedisan, Abang Songan, Songan A, Songan B, Trunyan, Suter, Abang Batudinding, Buahan, Pinggan, Belandingan —– yang kemudian disebut Wingkang Ranu merupakan daerah pegunungan berelief kasar dengan kemiringan lereng antara 30 – 70%.  Dengan temperatur berkisar antara 18ºC -23ºC dengan curah hujan tahunan sebanyak 1840 mm/tahun.

Sebagai destinasi wisata, wilayah Kintamani memiliki perpaduan panorama alam gunung Batur, Abang dan gunung Agung serta danau Batur. Kawasan yang tak sekadar mempesona juga menawarkan  panorama hutan hujan tropis lestari. Wilayah yang berikon anjing Kintamani ini juga berpotensi untuk pengembangan agrotourism, wisata pendidikan dan geologi.

Secara sosial budaya, Kintamani juga menyimpan sejarah panjang kerajaan Bali Mula, sebelum masuknya Majapahit ke Bali. Dan trend ke depan, kaldera Batur j menjadi pusat pengembangan wisata spiritual. Kaldera ini memang dibentengi sejumlah pura- pura besar seperti Pura Dalem Pingit ,Pura Danu Gadang, Pura Tuluk Biyu, Pura Pancering Jagat, Pura Pucak Penulisan, Pura Dalem Balingkang, Pura Hulun Danu. *WR Edisi Agustus 2011

 

Pusat Observasi Kepariwisataan Dunia ke-Tiga

Posted by: balikamilagi on: Juli 29, 2011

Denpasar-

Organisasi Kepariwisataan Dunia – UNWTO, bersama institusi kepariwisataan Cina membuka pusat observasi kepariwisataan berkelanjutan yang ke tiga  di Zhangjiajie,  Hunan.  Observatorium ini melakukan pemantauan dampak kepariwisataan berkelanjutan terhadap lingkungan, social dan ekonomi masyarakat tujuan wisata, berdasarkan indicator UNWTO. Hasil pantauan tersebut menjadi dasar pengambilan kebijakan untuk menjamin keberlanjutan pertumbuhan pariwisata.

Dua observatorium lain yang saat ini beroperasi berada di Yangshuo dan Huangshan,  dikelola oleh  Sun Yat-sen University, Guangzhou, Cina.

observatorium

 

Kaitkata:

Tumbuh 4,5 %

Posted by: balikamilagi on: Juli 8, 2011

Denpasar 

Pergerakan berwisata masyarakat dunia dalam empat bulan pertama tahun 2011 ini tumbuh 4,5%. Menurut edisi terbaru Barometer Pariwisata Dunia UNWTO, pertumbuhan positif TERJADI di semua wilayah, kecualii Timur Tengah. Beberapa subkawasan mencapai pertumbuhan dua digit: Amerika Selatan (17%), Asia Selatan (14%) dan Asia Tenggara (+10%). Selengkapnya:

Tumbuh

Kaitkata:

Ekologi yang Terdera

Posted by: balikamilagi on: Juli 8, 2011

Nusa Dua -

It is undeniable that in spite of its growing relevance and proven contribution to GDP (3% to 5% worldwide), jobs (7% to 8% of all jobs) and exports (30% of the world’s exports of services), Travel and Tourism still lacks due political and economic recognition.
In this framework, UNWTO and WTTC have decided to join hands in their common goal of mainstreaming Travel and Tourism in the global agenda in the form of a “Global Leaders for Tourism Campaign”. The objective is to position tourism as a driver of economic growth and development, and thus a priority in the global agenda.
As part of the Global Leaders for Tourism Campaign, UNWTO Secretary-General, Taleb Rifai, presented the Indonesian President with an Open Letter setting out the economic, development and environmental opportunities offered by tourism.

“We are delighted that Indonesia has joined this important campaign to raise international awareness of the relevance of travel and tourism,” said Mr. Rifai. “In doing so, Indonesia is sending out a strong message that it recognizes tourism’s potential as a force for development”.

Accepting the Letter, President Yudhoyono expressed the willingness of Indonesia – with 7 million international tourists and US$7 billion in receipts in 2010 – to capitalize on the “increasingly important role of tourism”.

“Today, tourism plays a significant role not only in the preservation of cultural values, but also in increasing people’s welfare,” said President Yudhoyono. “Tourism has provided job opportunities for millions of people across the globe; is one of leading exports of developing countries; and is a key stimulus in the transformation to a green economy”.

“The importance of Travel & Tourism as a driver of Indonesia’s economy is clear. Over the next ten years, Travel & Tourism’s contribution to the country’s GDP is expected to grow by nearly 6% per year,” said David Scowsill, President and CEO, WTTC.

“The strong message of support for the industry embodied in today’s acceptance of the Open Letter shows the government’s commitment to realizing Travel & Tourism’s potential to create jobs, generate exports and stimulate investment”.

Through the Global Leaders for Tourism Campaign, UNWTO and WTTC are jointly presenting heads of state and government around the world an Open Letter which calls on them to acknowledge tourism’s key role in delivering on sustained and balanced growth and to prioritize the sector high in national policies in order to maximize its potential. The Open Letter outlines Travel and Tourism’s value as one of the world’s largest generators of sustainable enterprises and decent jobs, a powerful driver of socio-economic growth and development and a key player in the transformation to the Green Economy.

The Campaign has already received the support of the Presidents of Mexico, South Africa, Kazakhstan, and Hungary.

* Dwi/UNWTO

Presiden Dorong Pembangunan Perdesaan

Posted by: balikamilagi on: Juli 2, 2011

Pemuteran-

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaruh perhatian tinggi terhadap pembangunan perdesaan, antara lain dengan kebijakan pemberian dana Rp100 juta per desa untuk program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).
“Perhatian kepada desa ini tidak hanya diberikan pada periode 2010 – 2014 ini, namun keberpihakan ini telah tampak sejak tahun 2004 lalu,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah Velix Vernando Wanggai di Jakarta.
Menurut dia, sejak tahun 2004, Indonesia diwariskan oleh tingginya kemiskinan di wilayah perdesaan.
Ada lima warisan permasalahan yang dihadapi oleh Presiden SBY sejak 2004, yaitu, belum optimalnya peran kelembagaan, rendahnya kapasitas sumber daya manusia dan masyarakat perdesaan, terbatasnya alternatif lapangan kerja yang berkualitas, rendahnya akses terhadap permodalan dan rendahnya ketersediaan dan akses terhadap sarana dan prasarana.
Menyikapi kondisi seperti ini, katanya, Presiden SBY telah menetapkan pembangunan perdesaan secara khusus dalam kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2005 – 2009, dan dilanjutkan di dalam RPJMN Tahun 2010 – 2014.
Dalam menguatkan komitmen tersebut, pembangunan perdesaan ditegaskan kembali di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Tahun 2005 – 2025. Dalam konteks jangka panjang, pembangunaan perdesaan didorong keterkaitannya dengan pembangunan perkotaan secara sinergis dalam suatu wilayah pengembangan ekonomi.
Presiden SBY juga mendorong pengembangan agroindustri padat pekerja di sektor pertanian dan kelautan, sebagaimana kebijakan dana Rp100 juta per desa untuk program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), program pertanian kawasan transmigrasi, maupun program pengembangan masyarakat pesisir dan kepulauan, serta reformasi agraria untuk meningkatkan akses lahan bagi petani desa.
Presiden SBY mendorong pengembangan jaringan infrastruktur penunjang kegiatan produksi di kawasan perdesaan dan kota-kota kecil terdekat, baik yang didanai oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan maupun berbagai kegiatan sektoral dari Kementerian, seperti pembangunan jalan poros desa, sanitasi lingkungan desa, air bersih dan permukiman masyarakat lokal.
Dari sisi penguatan kelembagaan, masih menurut Velix, Presiden SBY konsisten untuk menerjemahkan UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya yang terkait dengan agenda desa.
Presiden telah menerbitkan PP No 72/2005 tentang Desa, yang menekankan pentingnya kemandirian desa, perencanaan pembangunan desa yang lebih tertata, kapasitas kepala desa dan perangkat desa yang baik, dan sumber-sumber keuangan desa yang semakin baik.
Untuk membangun desa kedepan, lanjutnya, Presiden SBY telah menetapkan kewenangan dan urusan yang ditangani desa-desa, dan juga memiliki Alokasi Dana Desa (ADD) yang bersumber dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota. Kabupaten/kota memberikan paling sedikit 10 persen dari dana perimbangan tersebut kepada desa yang didistribusi secara proporsional.
“Untuk mengoptimalkan dana desa tersebut, Presiden SBY harapkan agar desa-desa memiliki Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa lima tahun dan Rencana Kerja Pembangunan Desa satu tahun,” katanya lagi.
Velix juga menambahkan bahwa pemerintah telah memutuskan untuk memecah UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Salah satunya adalah aspek desa diatur dalam sebuah payung hukum tersendiri. Hal ini adalah bagian penting dari strategi untuk wujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
Untuk itu, lanjutnya, pemerintah konsisten mempercepat pembahasan RUU Desa, dan Pemerintah akan menata pembangunan desa secara menyeluruh.*dwi/antara

Deklarasi Bali

Posted by: balikamilagi on: Juli 2, 2011

Nusa Dua-

Pertemuan tahunan Komite Etik Kepariwisataan Dunia ke 10 telah melahirkan Deklarasi Bali. Deklarasi yang memperkuat semangat pelaksaan kepariwisataan beretika.

Menurut anggota Komite Etik Kepariwisataan Dunia, I Gede Ardika, bagi Bali — masyarakat, pelaku industri dan pemerintah –  hendaklah menjadi tuan rumah tak hanya sekadar mengisi kamar hotel dan terjualnya sovenir, atau terpakainya jasa spa, hiburan, atraksi budaya. Tetapi, jadilah tuan rumah yang patut menjadi acuan pelaksanaan etika kepariwisataan tersebut. Pasalnya nilai inti etika kepariwisataan dunia juga didasari nilai kearifan lokal Bali Tri Hita Karana.

Sepakat dengan hal tersebut, Gubernur Bali Mangku Pastika juga menegaskan, selayaknya pemerintah, masyarakat industri dan masyarakat Bali lebih konsisten dalam implementasi kepariwisataan beretika.

Selengkapnya, Deklarasi Bali:the_spirit_of_bali_statement

Kaitkata: ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.